Presiden Ajak Para Menteri dan Pejabat Tinggi Berzakat Ke BAZNAS



Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengajak seluruh menteri pada Kabinet Kerja menunaikan kewajiban zakat melalui BAZNAS.

Pembayarannya dilakukan bersama dalam acara “Penyerahan Zakat kepada BAZNAS di Istana Negara”, Senin (28/5). Selain para menteri, dalam acara tersebut, hadir sekitar 300 pejabat tinggi termasuk pejabat eselon I di berbagai kementerian dan lembaga negara, direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Berbeda dengan acara pada tahun-tahun sebelumnya, hari ini diundang juga publik figur dan muzaki dengan berbagai profesi seperti dokter, pengusaha kecil hingga tukang ojek untuk menunaikan zakat bersama-sama dengan Presiden.

BAZNAS menyiapkan 30 konter di lingkungan Istana Negara untuk melayani pembayaran zakat bekerja sama dengan BRI Syariah. Pembayaran bisa dilakukan secara tunai maupun non tunai untuk memudahkan muzaki menunaikan zakatnya.

“Alhamdulillah pada hari ini bisa terlaksana kembali acara tahunan yang telah dirintis oleh Presiden sejak Bulan Ramadan 2016. Presiden dan para pejabat di tingkat pusat menunaikan zakatnya melalui BAZNAS sebagai bentuk keteladanan para pemimpin muslim menunaikan kewajiban,” kata Ketua BAZNAS, Prof. Dr. Bambang Sudibyo MBA, CA dalam sambutannya.

Penyerahan zakat hari ini juga dilakukan serentak oleh para bupati/wali kota, pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) melalui BAZNAS di daerah masing-masing.

“Semoga keteladanan para pemimpin dalam menunaikan zakat di bulan Ramadan mendapat Ridho Allah SWT, membawa berkah bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama dalam menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia,” katanya.

Menurut Bambang, zakat makin berperan dan bersinergi dengan program-program pengentasan kemiskinan pemerintah. Penelitian Pusat Kajian Strategis (Puskas) BAZNAS pada 2017 menunjukkan bahwa distribusi dan pendayagunaan zakat berhasil meningkatkan pendapatan mustahik fakir miskin sebanyak 27 persen per tahun.

Penyaluran zakat untuk fakir miskin dilakukan melalui program-program yang bersifat konsumtif maupun pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Menurut Bambang, setiap tahun pengumpulan Zakat Infak dan Sedekah selalu mengalami peningkatan. Selama 15 tahun terakhir, peningkatannya mencapai 38 persen saat rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,3 persen.

“Ini disebabkan karena kesadaran umat untuk membayar zakat melalui lembaga amil resmi semakin tinggi. Selain itu, pertumbuhan kelas menengah muslim juga makin meningkat,” ujar dia.

Tahun lalu, penghimpunan ZIS nasional mencapai Rp6,24 triliun. Tahun ini, ditargetkan mencapai Rp8 triliun.
Menurut Bambang, BAZNAS terus melakukan inovasi untuk memudahkan masyarakat menunaikan ZIS sesuai gaya hidupnya. Antara lain penambahan kanal-kanal pembayaran digital baik melalui digital banking, e-commerce maupun financial techology. BAZNAS juga mengenalkan produk-produk baru, salah satunya zakat dan sedekah saham yang telah diuji oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan bekerja sama dengan PT Henan Putihrai.

Pihaknya berharap, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang bisa mendongkrak pertumbuhan zakat, salah satunya dengan mewajibkan menunaikan zakat bagi muslim yang sudah memenuhi persyaratan.

Selain itu sosialisasi zakat sebagai insentif pajak juga perlu digencarkan kembali. Masyarakat perlu tahu bahwa saat ini, zakat yang dibayarkan melalui BAZNAS atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi bisa mengurangi jumlah pajak penghasilan.

Kedua hal ini bisa dilakukan dengan revisi UU No. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat dan revisi UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

“Jika dua kebijakan ini diambil, maka saya yakin angka penghimpunan zakat nasional akan melonjak naik sangat signifikan,” katanya.

Comments are closed.