Pertama di Indonesia, BAZNAS Dukung Program SDGs Bidang EBT



Wakil Ketua BAZNAS, Dr Zainulbahar Noor SE, MEc dan Wakil Direktur UNDP Indonesia, Francine Pickup disaksikan Gubernur Jambi, Zumi Zola Zulkifli melakukan penandatanganan kerjasama pembangunan pembangkit listrik terbarukan di propinsi Jambi, Rabu (19/7). (Foto: Istimewa/BAZNAS)

Wakil Ketua BAZNAS, Dr Zainulbahar Noor SE, MEc dan Wakil Direktur UNDP Indonesia, Francine Pickup disaksikan Gubernur Jambi, Zumi Zola Zulkifli melakukan penandatanganan kerjasama pembangunan pembangkit listrik terbarukan di propinsi Jambi, Rabu (19/7). (Foto: Istimewa/BAZNAS)

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sepakat memberikan kontribusi pertama untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.

Penyaluran zakat sejumlah USD350.000 oleh BAZNAS adalah untuk mendukung United Nations Development Programme (UNDP) dalam Transformasi Pasar melalui Market Transformation through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in the Energy Sector (MTRE3), yaitu program pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dapat mendukung pengentasan kemiskinan dan penyejahteraan masyarakat melalui peningkatan akses terhadap energi.

Program ini dipimpin oleh Ir. Rida Mulyana, MSc., Direktur Jenderal Konservasi Energi Terbarukan dan Energi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kontribusi pertama tersebut adalah untuk mendukung pengembangan pembangkit listrik tenaga air mikro di provinsi Jambi, Sumatera.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyambut baik kontribusi BAZNAS. Menurut Kementerian, sekitar 30 juta orang Indonesia – atau 12 persen penduduk – tidak memiliki akses listrik yang memadai.

Di banyak negara Islam seperti Indonesia, zakat sebagian besar disalurkan secara informal melalui keluarga dan teman serta badan amal dan panti asuhan yang tidak bersertifikat. BAZNAS adalah lembaga negara non-struktural dalam menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq dan sedekah, di negara dengan 87 persen dari 235 juta penduduknya beragama Islam.

“Kontribusi BAZNAS menandai sebuah langkah penting dalam penyaluran dana zakat untuk mencapai SDG untuk pertama kalinya di manapun di dunia. Agenda pembangunan global tahun 2030 adalah rencana ambisius untuk memberantas kemiskinan ekstrem, dan zakat memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan untuk memberikan kontribusi berarti dalam memastikan bahwa tidak ada perempuan, laki-laki atau anak yang tertinggal, ” kata Francine Pickup, Wakil Direktur UNDP Indonesia.

Dia menambahkan bahwa kurangnya akses terhadap listrik akan menahan masyarakat untuk memperbaiki taraf hidup mereka dan merupakan kendala utama untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia. Sekitar 28 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan nasional.

Prinsip-prinsip Islam mendukung proses pembangunan yang inklusif secara sosial. Kontribusi ini merupakan bagian dari visi kami untuk memiliki dampak yang lebih besar terhadap pembangunan di Indonesia yang akan menguntungkan masyarakat termiskin dan paling tidak beruntung di negara ini, ” kata Wakil Ketua Komisioner Baznas Zainulbahar Noor.

Proyek MTR3 UNDP beroperasi di provinsi Riau dan Jambi, serta di provinsi Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana persentase keluarga yang kekurangan akses listrik tetap tinggi. Proyek ini bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan akses terhadap energi alternatif, terutama di daerah pedesaan yang menghadapi kemiskinan tinggi.

Didanai oleh Global Environment Facility (GEF), proyek lima tahun ini memiliki tujuan utama untuk mendukung disain dan implementasi tindakan mitigasi perubahan iklim di sektor pembangkit energi dan energi akhir. Ini bertujuan untuk mendukung Pemerintah Indonesia untuk mencapai target penurunan emisi sebesar 29 persen pada skenario bisnis seperti biasa pada tahun 2030.

Comments are closed.