BAZNAS Gelar Operasi Katarak Massal di Maluku Utara



Operasi katarak massal di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, yang digelar BAZNAS, selama sepekan, 7-11 Maret 2018. (Foto: Istimewa/BAZNAS)

Dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas masyarakat Indonesia dari kalangan dhuafa, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggelar operasi katarak gratis secara massal di Provinsi Maluku Utara (Malut).

“Dengan kegiatan ini, diharapkan bisa membantu masyarakat tak mampu, sehingga mereka lebih berdaya dan produktif dalam menjalankan aktivitasnya. Dengan penglihatan yang baik, produktivitas mereka diharapkan bisa semakin meningkat,” ujar Direktur Pendistribusian BAZNAS, Mohd. Nasir Tajang dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (5/3/2018).

Operasi katarak massal yang berlangsung selama sepekan, 7-11 Maret 2018, diresmikan Gubernur Malut, Bapak Abdul Ghani Kasuba di Kota Ternate, Provinsi Malut, Rabu (7/3/2018).

Nasir menyebutkan, Kegiatan ini dilaksanakan sebagai lanjutan kerja sama BAZNAS dengan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) yang telah dilaksanakan di Provinsi Papua Barat.

“Bakti sosial operasi katarak ini, secara besar-besaran digelar di Provinsi Malut, karena menurut data kami, penderita katarak marak di wilayah tersebut,” ucap Nasir.

Menurut dia, BAZNAS menyiapkan anggaran Rp 738.350.000 untuk kegiatan akbar tersebut. “Ini bertujuan untuk menurunkan angka kebutaan yang diakibatkan oleh penyakit katarak, meningkatkan harapan dan produktivitas masyarakat,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Rumah Sehat BAZNAS Indonesia (RSBI), dr. Meizi Fachrizal Ahmad, M.Si, memaparkan, katarak antara lain disebabkan oleh faktor genetik atau diabetes mellitus.

“Karena itu, Rumah Sehat BAZNAS Indonesia tidak hanya menggelar operasi mata katarak gratis massal, tapi juga memberikan penyuluhan tentang penyebab dan pencegahan penyakit katarak,” ujar dia.

Menurut Badan Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau World Health Organization (WHO), tutur dia, pada tahun 2002 katarak merupakan penyebab kebutaan yang paling utama dan terbesar di dunia, yakni 48 persen dari total kasus kebutaan global.

“Jumlah penderita katarak di Indonesia mencapai sebesar 1,5 persen per dua juta penduduk. Kondisi tersebut menjadikan 240.000 orang di negeri ini terancam mengalami kebutaan akibat katarak,” kata dr. Fachri mengingatkan.

Dia menjelaskan, tim AMCF sudah melakukan survei terkait biaya operasi katarak di Malut, yakni Rp 5 juta per pasien.

“Untuk kegiatan seperti ini, melalui Rumah Sehat BAZNAS (RSB) Jakarta, kami sudah sering melakukan bakti sosial operasi katarak. Sehingga dalam rangka mengupayakan efisiensi, kami meminta pihak RSB Jakarta berkomunikasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) pusat,” ucap dia.

Dan hasilnya, terang dr. Fachri, biaya operasi katarak dari Perdami pusat lebih murah, yaitu sekitar Rp 2 juta-2,5 juta. Sementara jika datang secara mandiri ke rumah sakit biasa, lebih kurang Rp 10 juta.

“Itu sudah termasuk semua biaya kegiatan operasi katarak. Karena itu, RSB Jakarta pun memutuskan langsung menggandeng Perdami pusat untuk ikut dalam kegiatan pelayanan kesehatan massal ini. Operasi dilakukan selama sepekan mulai tanggal 7 sampai 11 Maret 2018,” kata dia.

Fachri menuturkan, BAZNAS melalui RSBI juga telah berkoordinasi dengan BAZNAS Provinsi Maluku Utara, BAZNAS Kota Ternate, Rumah Zakat dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ternate, yang menyepakati Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Ternate sebagai tempat operasi katarak massal.

Sebagai informasi, BAZNAS telah menggelar screening calon pasien operasi ketarak massal di beberapa titik lokasi di Malut, pada Rabu (28/2/2018). Di antaranya di gedung Dhuafa Center, Puskesmas Jambula, Puskesmas Kalumata dan Rumah Sakit Bina Warga.

Ada 774 orang yang mendaftar, sehingga melebihi target yang ditetapkan.

Para mustahik itu bukan saja berasal dari Kota Ternate, namun juga dari beberapa kabupaten yang ada di Malut, seperti Halmahera Barat (Halbar), Halmahera Timur (Haltim), Kepulauan Sula dan Tidore.

Screening merupakan tahapan pemeriksaan kornea mata, untuk menentukan apakah memenuhi syarat atau tidak untuk dioperasi.

Ada tes penglihatan dengan melihat huruf, pemeriksaan tekanan darah, pengambilan sampel gula darah dan sebagainya. Jika mereka lolos maka secara medis layak dioperasi.

Screening berlangsung selama tiga hari, yakni 28 Februari-2 Maret 2018. Setelah diumumkan hasilnya, maka tahapan operasi diadakan 7-11 Maret. Meski demikian, pascaoperasi masih ada perawatan lanjutan oleh tim dokter RSBI. Saat ini pasien yang telah menjalani screening hampir mencapai 1.000 jiwa, yakni 774 orang.
(*)

TENTANG BAZNAS
Adalah badan pengelola zakat yang dibentuk pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 8/2001. BAZNAS bertugas menghimpun dan menyalurkan dana zakat infak, sedekah (ZIS) dan dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) pada tingkat nasional. Kelahiran UU No. 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, mengukuhkan peran BAZNAS sebagai lembaga yang berwenang melakukan pengelolaan zakat nasional. BAZNAS sudah berdiri di 509 daerah (tingkat provinsi dan kabupaten/kota).

Comments are closed.